News  

Puluhan Pohon Tiriq Dari Adat Sulsel Hiasi Perayaan Maulid Nabi di Jalan Inspeksi Kali Duri Pejagalan Jakut

Oplus_131072

Faktaexpose.com, JAKARTA – Memperingati perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang di diadakan jamaah Musholla Al-Ikhlas di Jalan Inspeksi Kali Duri/Air Baja, RT 006/RW 016, Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, berlangsung meriah dan penuh semangat kebersamaan.

Kesemangatan terlihat adanya puluhan hiasan pohon Tiriq khas masyarakat Mandar yang ditampilkan di saat acara kebesaran. Hiasan pohon Tiriq itu dibuat dengan batang pohon pisang dibungkus kertas warna-warni, ganntungan telur rebus dibungkus kertas warna dan gantungan beberapa uang kertas.

Kegiatan yang menghadirkan penceramah Ustaz Aris Kurniawan Al-Ghifari tersebut turut dihadiri dan mendapat dukungan dari Ketum Garda Bintang Timur, Daenk Jamal. Kehadiran Daenk Jamal menjadi bagian dari dukungan terhadap kegiatan keagamaan sekaligus upaya memperkuat persaudaraan dan kerukunan masyarakat di kawasan tersebut.

” Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini tidak semestinya hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial tahunan, Namun momen ini harus menjadi sarana untuk menghidupkan kembali keteladanan Rasulullah dalam kehidupan bermasyarakat,” kata Daenk Jamal, Sabtu (5/9/2026) malam.

 

Masih kata dia, Bukan hanya memperingati, tetapi bagaimana kita meningkatkan keteladanan beliau dalam persatuan, persaudaraan, NKRI, dan silaturahmi. Kita harus menjaga ukhuwah dan kebersamaan dengan seluruh etnis dan agama,” ujarnya.

Ia pun menilai, keberagaman masyarakat di kawasan Pejagalan menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis. Masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut berasal dari berbagai latar belakang suku dan daerah, termasuk para perantau yang kemudian membaur dan hidup berdampingan.

Adanya hiasan pohon Tiriq, kata Daenk Jamal, Untuk membawa tradisi kampung halaman ke tanah rantau merupakan salah satu bentuk kecintaan terhadap adat dan budaya.

Menurut dia, masyarakat perantauan tidak harus meninggalkan identitas budaya ketika hidup di daerah lain. Sebaliknya, tradisi yang memiliki nilai positif dapat diperkenalkan dan dikembangkan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

” Ini menjadi keunikan tersendiri karena kita mengadopsi budaya Mandar dari Sulawesi Barat. Para perantau membawa tradisi dari kampung halaman dan kemudian melaksanakannya di tanah rantau. Ini salah satu cara mencintai adat dan budaya sekaligus melestarikannya,” jelas Daenk Jamal.

 

Dalam uraian pesan ceramah tausiah disampaikan Ustaz Aris Kurniawan Al-Ghifari, Ia menjelaskan kisah Nabi Muhammad SAW dan ketauladanan Nabi.

” Mari para jamaah untuk itu kita menjalankan sunahnya dan ketaualadannya. Karena apa yang ada di kemampuan Nabi semua beliau miliki, beliau juga pedagang, politikus atau pemimpin dan lain sebagainya, namun Nabi sangat taat pada Allah Subahana Wattaalaa. Untuk para jamaah mari kita contohkan Nabi Muhammad Sollallahu Alahii Wassalaamm,” pesan Ustadz Aris Kurniawan.

(Yons)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *