News  

BRI Cetak Laba Rp31,2 Triliun, 75,1 Persen Kredit Mengalir ke UMKM

Oplus_131072

Faktaexpose.com, PADANG – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat kinerja positif hingga akhir Triwulan II 2026.

Di tengah dinamika ekonomi dan industri perbankan, laba bersih BRI Group mencapai Rp31,2 triliun, tumbuh 17,5 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan laba tersebut berjalan seiring dengan ekspansi bisnis dan penguatan fundamental perseroan. Hingga akhir Juni 2026, total aset BRI mencapai Rp2.352 triliun, meningkat 11,7 persen yoy. Sementara kredit dan pembiayaan tumbuh 16,2 persen yoy menjadi Rp1.646 triliun.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan capaian tersebut diraih ketika perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan ekonomi nasional pada Triwulan II 2026 berada di kisaran 5,30 persen dengan tingkat inflasi 3,34 persen.

Menurut Hery, kondisi tersebut menjadi modal optimisme bagi BRI, terutama karena UMKM tetap menjadi bagian penting dari perekonomian nasional sekaligus core business perseroan.

“Di tengah transformasi yang terus kami jalankan, satu hal yang tidak berubah adalah komitmen BRI untuk terus tumbuh bersama UMKM dan ekonomi kerakyatan Indonesia,” ujar Hery saat pemaparan kinerja BRI di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Kredit UMKM Capai Rp1.235,4 Triliun

Komitmen terhadap sektor UMKM tercermin dari besarnya porsi pembiayaan yang disalurkan perseroan. Hingga akhir Triwulan II 2026, kredit BRI kepada segmen UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun, tumbuh 8,6 persen yoy.

Nilai tersebut setara dengan sekitar 75,1 persen dari total portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group.

Hery menegaskan, pengembangan bisnis baru dan diversifikasi sumber pertumbuhan tidak mengubah karakter utama BRI sebagai bank yang tumbuh bersama ekonomi kerakyatan.

Penguatan segmen consumer, small-medium-commercial, corporate hingga pengembangan new core dilakukan untuk membentuk struktur bisnis yang semakin beragam, sementara UMKM tetap menjadi fondasi utama.

“BRI tetap konsisten menjadikan UMKM sebagai core business. Kami percaya pertumbuhan BRI harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan pelaku usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat,” katanya.

Transformasi Mulai Mendorong Kinerja

Untuk menjaga pertumbuhan, BRI menjalankan transformasi melalui BRIVolution Reignite. Strategi tersebut diarahkan pada penguatan funding franchise, pembenahan bisnis inti, serta pengembangan sumber pertumbuhan baru.

Dari sisi pendanaan, BRI memperbesar basis dana murah melalui pendekatan berbasis ekosistem. Perseroan juga memperkuat kanal digital melalui akuisisi merchant, transaksi BRImo, QRIS dan BRILink Agen.

Di bisnis mikro, BRI melakukan penyempurnaan proses bisnis, meningkatkan kapabilitas tenaga pemasar atau mantri, serta memperkuat penerapan manajemen risiko secara lebih granular.

Strategi tersebut mulai tercermin dalam kinerja keuangan. Dana pihak ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.581 triliun, tumbuh 6,7 persen yoy.

Sementara itu, net interest income meningkat 9,9 persen yoy dari Rp73,3 triliun menjadi Rp80,5 triliun. Pre-Provision Operating Profit (PPOP) juga naik 12,8 persen yoy menjadi Rp65,7 triliun.

“Capaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi mulai kami konversikan menjadi kinerja. Bagi kami, yang terpenting bukan hanya seberapa cepat BRI bertumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut dihasilkan dari fundamental yang semakin sehat,” ujar Hery.

Kualitas Aset dan Efisiensi Membaik

Pertumbuhan bisnis BRI juga diikuti dengan perbaikan sejumlah indikator fundamental.
Cost of Fund (CoF) secara bank only turun dari 3,0 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 2,4 persen pada Triwulan II 2026.

Efisiensi operasional juga membaik, tercermin dari Cost to Income Ratio (CIR) yang turun dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen.

Dari sisi kualitas aset, rasio Non-Performing Loan (NPL) turun dari 3,0 persen menjadi 2,9 persen. Sementara Cost of Credit (CoC) membaik dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.

Penguatan fundamental tersebut turut menjaga profitabilitas perseroan. Return on Asset (ROA) BRI berada di kisaran 2,7 persen, sedangkan Return on Equity (ROE) meningkat dari 16,6 persen menjadi 18,8 persen.

“Berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan yang kami capai semakin berkualitas. Funding semakin efisien, efisiensi operasional membaik, kualitas aset semakin sehat, dan kemampuan BRI dalam menghasilkan return juga semakin kuat,” kata Hery.

Pemberdayaan UMKM Diperluas

Selain pembiayaan, BRI memperkuat UMKM melalui berbagai program pemberdayaan yang mencakup desa, komunitas usaha hingga pelaku usaha secara individual.

Hingga Juni 2026, program Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan. Program Klasterku Hidupku telah mencakup lebih dari 44 ribu klaster usaha.

Sementara melalui platform digital LinkUMKM, BRI telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM. Pendampingan melalui Rumah BUMN juga telah melibatkan sekitar 596 ribu pelaku UMKM hingga Juni 2026.

Dari sisi pembiayaan, sepanjang Januari-Juni 2026 BRI menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Rp103,8 triliun kepada lebih dari 2 juta debitur.

Secara kumulatif sejak 2015 hingga Juni 2026, penyaluran KUR BRI mencapai Rp1.539 triliun kepada 48,4 juta nasabah.

Hery mengatakan pembiayaan dan pemberdayaan merupakan dua hal yang tidak terpisahkan dalam strategi BRI mengembangkan ekonomi kerakyatan.

“UMKM memperoleh akses keuangan, mendapatkan pemberdayaan dan pendampingan, meningkatkan kapasitas usahanya, kemudian naik kelas dan semakin terintegrasi ke dalam ekosistem ekonomi yang lebih besar,” ujarnya.

Menurut Hery, keberhasilan BRI tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan aset, kredit dan laba. Dampak terhadap pelaku usaha dan perekonomian masyarakat juga menjadi bagian penting dari capaian perseroan.

“Dengan fundamental yang semakin kuat dan transformasi yang terus berjalan, BRI akan konsisten tumbuh bersama ekonomi kerakyatan Indonesia,” pungkasnya. (Widya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *