Dewan Kesenian Kabupaten Malang Apresiasi Pelaku Seni Budaya Sumberpucung

oleh -564 Dilihat
oleh
Foto : Saat Ketua DKKM Kab. malang memberikan piagam penghargaan kepada Ketua Paguyuban Jaranan Sumberpucung kab. Malang, . (Nov)

MALANG, FaktaExpose.com – Pagelaran Seni Budaya akhir tahun yang di selenggarakan Mako Live hingga tanggal 4/1/2023 di Stadion Karya bhakti Sumberpucung kab. Malang mengundang antusias masyarakat dari berbagai daerah.
Berbagai macam rangkaian acara yang di tampilkan pada siang hingga malam mulai dari tarian, jaranan, battle sound dan lain-lain serasa menjadi pelepas dahaga bagi masyarakat yang selama ini haus dengan hiburan.

Dalam gelaran acara tersebut, juga di hadiri Ki Suroso selaku Ketua DKKM (Dewan Kesenian kab. Malang) beserta beberapa anggotanya untuk memberikan apresiasi kepada pelaku Seni Budaya.

Kesenian Budaya di kabupaten malang wajib di apresiasi, kami akan menjadi jembatan bagi pelaku Seni Budaya Yang ada di kabupaten Malang untuk kemajuan dan kelestarian kesenian daerah yang kita banggakan. Adapun penghargaan yang Kami berikan adalah salah satu bentuk apresiasi dan hormat Kami pada karya para pelaku Seni Budaya, ungkap Ki Suroso.

Baca Juga  Gegara Tulis Berita Oknum Camat Berpoligami, Wartawan Harian-Ri Aceh Utara di Laporkan Ke Polres

Banyak keseruan dan aksi dalam gebyar Seni Budaya ini, salah satunya jaranan Putra Waringin Putih yang ikut serta memeriahkan. walaupun kondisi lapangan berlumpur akibat guyuran hujan antara pelaku seni budaya dan masyarakat yang menonton juga sangat antusias, karena memang semenjak pandemi covid 19 baru sekarang ada pertunjukan seni yang besar dalam empat hari dengan di ikuti 21 komunitas jaranan yang ada di Sumberpucung, Kab. Malang, jelasnya juga.

Hal ini juga di sampaikan Sampir Winarto selaku Ketua paguyuban jaranan sumberpucung, harapannya agar Pemerintah semakin memperhatikan Kesenian tradisional serta memberikan suatu tempat dan wadah untuk berkesenian agar semua komunitas jaranan yang ada di sumberpucung kab. Malang semakin solid dalam Nguri-uri budaya, meskipun dengan keterbatasan alat yang kebanyakan komunitas masih banyak yang sewa, ulasnya. Salam Satu Jiwa ! (John/Nov)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *