ARJOWILANGUN PENUH KHARISMA BUDAYA DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

oleh -155 Dilihat

Oleh : Ir. RT. Moeljono Budoyo Hadipuro, MM

Faktaexpose.com – Arjowilangun adalah nama sebuah desa di seberang selatan sungai Brantas Malang, yang terletak di wilayah Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang. Dengan luas area desa Arjowilangun adalah 1.356.324 Ha, merupakan daerah agraris.

Arjowilangun merupakan salah satu desa di wilayah Kabupaten Malang yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Blitar. Wilayah Arjowilangun terbagi atas 5 dukuh dan 3 dusun bagian. Diantaranya adalah Barisan, Panggang Lele, Lotekol, Lodalem, Duren, Bonsari, Dung Dampar, dan Bengkok. Arjowilangun merupakan desa termaju dan termodern di antara desa-desa lainnya di kecamatan Kalipare.

Gapura Arjowilangun. Gapura ini terletak di Dusun Panggang Lele sebelah timur dan merupakan pintu utama masuk ke Desa Arjowilangun dari arah Kota Malang.

Desa ini sebagai penyumbang TKI terbesar di kecamatan Kalipare sebagai pahlawan devisa negara. Sebuah Koperasi Posdaya Purna TKI yang di beri nama “Senang Hati” diresmikan oleh Bupati Malang Rendra Kresna pada tanggal 4 juli 2012, di mana desa ini merupakan basis TKI di kabupaten Malang.[1]

Para TKI disini tergolong cerdik dengan membuka jaringan usaha di luar negeri di mana tempat mereka dulu bekerja. Mereka menjalin hubungan bisnis dengan mitra usaha di luar negeri, utamanya menjadi mitra yang bisa menyalurkan produk lokal asal Desa Arjowilangun yang dapat dijual di sana.[2]

Pusat perekonomian desa Arjowilangun berada di Dusun Lodalem dan Dusun Panggang Lele, karena di kedua Dusun tersebut terletak pusat pasar di Desa Arjowilangun. Oleh karena itu kegiatan perekonomian penduduk desa Arjowilangun terpusat di dusun Panggang Lele dan Lodalem. Dusun Barisan dianggap sebagai Ibu kotanya karena selain ditempati gedung Balai Desa, Barisan terdapat lebih banyak pusat-pusat perbelanjaan daripada dusun-dusun lainnya di Arjowilangun, seperti pertokoan sekelas “mini market” atau swalayan, bengkel motor, warnet, counter HP (toko HP), toko pakaian serta percetakan.

Desa Arjowilangun juga menyimpan beberapa peninggalan bersejarah. Seperti keris, tongkat, pecut (cambuk) dan masih banyak yang lainnya, yang kini di simpan di Padepokan/Sanggar Eyang Demang Merthowijoyo di dusun Panggang Lele. Arjowilangun juga merupakan salah satu desa yang setiap tahunnya selalu mengadakan even tahunan yaitu Bersihdeso (Bersih Desa).[3] Acara ini adalah memperingati para leluhur desa Arjowilangun sing babad alas gong lewang lewong (yang pertama kali membuka desa).

Perayaan tersebut biasanya diadakan pada hari jum’at pahing bulan Selo(Tahun Jawa) atau Dzulhijjah (Tahun Islam). Acara ini dimulai dengan Napak Tilas untuk mengenang jejak para leluhur, marathon, dan Arak-arakan Mbah Leang-Leong. Selain itu juga ada hiburan Orkes Melayu, Parade Band, Jaranan (Kuda Lumping), bazar murah dan masih banyak lagi yang lainnya. Arjowilangun juga disebut sebagai desa budaya karena memiliki keanekaragaman budaya, suku, agama dan bahasa. Selain itu, di desa Arjowilangun juga terdapat arca peninggalan pada zaman dahulu yaitu Punden yang kini berada di dusun Barisan tepatnya di depan kantor desa Arjowilangun.

Baca Juga  Tidak Ada IMB, Pembangunan Renovasi SMK Muhammadiyah 13 Ganggu Kenyamanan Warga

Selain itu juga ada makam Mbah Ampel yang terletak di dusun Lodalem, ada arca Paron yang terdapat di area pemakaman dusun Pangggang Lele serta arca kepala Mbah Sukoco dan Mbah Sukeci yang disimpan di Padepokan Eyang Demang Mertowijoyo, Panggang Lele.

Suku-suku di Arjowilangun juga beragam, ada keturunan China, Kalimantan, Madura, Jawa, Osing dan masih banyak yang lainnya. Untuk penggunaan bahasa, Arjowilangun masih mengunnakan bahasa Jawi Medok atau bahasa kulonan (logat Jawa Tengah). Walaupun desa Arjowilangun masuk wilayah kabupaten Malang, tetapi bahasanya berbeda dengan bahasa Malangan (logat Jawa Timur). Selain itu ada juga yang menggunakan bahasa Madura, terutama masyarakat Dusun Bengkok karena mayoritas penduduknya adalah keturunan orang Madura.

Di samping bahasa tersebut juga ada bahasa Arjowilangunan, yaitu bahasa Walikan (bahasa yang dibalik cara pengucapannya berdasarkan kosakata). Pengucapannya hampir sama dengan bahasa walikan Malangan, tetapi kalau di Arjowilangun masih ada pengejaannya seperti orang Arab. Contoh; njalok menjadi kolajn atau dibaca KOLAJE’ EN[butuh rujukan].

Desa Arjowilangun juga mempunyai gedung-gedung pendidikan yang sudah maju mulai tingkat TK sampai SMK. SMP dan SMK Islam disini termasuk salah satu sekolah yang termaju di Kecamatan Kalipare. Untuk seni dan budaya, Arjowilangun mempunyai banyak sekali diantaranya seni Reog Ponorogo, Jaranan, Ludruk, Tayub, Wayang, Pencak, Shalawat Terbangan Islam, Shogukan Madura, Sakera, dan masih banyak yang lainnya. Diharapkan kelestarian desa Arjowilangun tetap terjaga.

Akan tetapi ada seni yang termasuk klasik, yang mungkin tidak dimiliki oleh desa-desa lain di Kabupaten Malang, bahkan bisa jadi se-Jawa Timur. Seni yang dimaksud adalah LUDRUK BESUT, cerita ini berawal dari perkataan harapan jika terkabul, maka akan melaksanakan sesuatu yang telah diucapkan (UJAR : bahasa Jawa).

Seni Ludruk Besut ini tergolong klasik, karena selain dari cerita ujar yang diwujudkan dalam bentuk Seni Gerak, juga ada sebuah Tari Topengnya yang agak berbeda dengan Tari Topeng lain. Hal ini perlu penggalian lebih mendalam, daripada potensi sejarahnya.

Ki Demang Mertowijoyo adalah salah satu Senopati daripada Kerajaan Mataram Islam, yang sempat ikut dalam pelarian pasca Perang Jawa / Perang Diponegoro (1825 – 1830 H). Bersambung ! (John)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.