Faktaexpose.com, PATI – Banjir hampir sepekan melanda Kabupaten Pati banyak membuat kerugian petani gagal panen. Kabupaten Pati juga merupakan banyak penghasil pertanian bawang merah dan cabai, Namun akibat kerugian banjir ini petani bawang merah mengalami gagal panen dan kerugian hampir 70 persen.
Kepala Desa Ngurensiti Kecamatan Wedarijaksa Indra Prasta Radika menjelaskan nilai kerugian masyarakat yang Ia pimpin kebanyakan petani bawang.
” Disini lahan pertanian bawang merah ada 20 hektar yang terendam, jadi disini kebanyakan petani bawang merah, ada 70 persen gagal panen dan 30 persen dipanen karena banjir atau terpaksa,” kata Indra di kediamannya, Jumat (16/1/2026).
Lebih lanjut, belum tani cabai ada 3 hektar ikut terendam dan juga lahan pertanian tebu ada 20 hektar, 10 hektar itu baru saja di tanam dan hilang karena banjir, 10 hektar masih terlihat dan ditebang.
Dikatakan Indra, Akibat banjir nilai jual bawang merah yang diterima petani hanya 15 ribu perkilo, bahkan bisa sepuluh ribu, harga sebelumnya 23 ribu sampai 25 ribu rupiah.

Menurut Indra nilai kerugian pertanian desanya perhektar 100 juta rupiah, dan keseluruhan hampir sekitar 2 milyar rupiah, bahkan bisa lebih.
Indra pun menjelaskan upaya pencegahan banjir desanya, sudah dua tahun lalu di buatkan tanggul dengan panjang hampir 1 km dengan tinggi 1,5 meter.
” Kita berharap banjir ini teratasi meski kami sudah buatkan tanggul
dua tahun lalu, panjang 1 km dan tinggi 1,5 meter, nah jika curah hujan terus menerus kami khawatir tanggul jebol dan akan bertambah 16 hektar lahan petani terendam, karena debit air, saat ini pun kami upayakan penyedotan terus,” ungkap dia.
Sementara Siswanto petani melon saat membantu mencabuti bawang merah milik orang tuanya yang belum saat dipanen, menjelaskan kerugian akibat banjir sangat terpukul. Bahkan diakuinya kerugian dirasakan mencapai 80 persen dari modal dasar.
” Saya tadi bantu bapak saya cabuti bawang merah yang belum saatnya panen, karena ketimbang rugi besar, dengan terpaksa dipanen,” kata dia.
Masih kata Siswanto, Sebenarnya kurang satu minggu hingga dua minggu sudah panen, namun adanya musibah banjir ini, yaa terpaksa dicabuti dan harga menjadi anjlok.
” Kalau bawang merah super harga biasanya perkilo Rp 23 ribu sampai Rp 25 ribu perkilo, namun karena musibah ini dijual Rp 10 ribu,” sebut Siswanto.
Lanjut, sedang modal dasarnya Rp 70 ribu, bibit, termasuk biaya kuli dan pupuk, bahkan bisa lebih, Yaa rugi banget, apalagi saat ini bibit per kilo mencapai Rp 60 ribuan.
Diketahui, Menurut catatan kepala Dinas Pertanian kabupaten Pati Ratri Wijanarko, sekitar 4400 hektar lahan pertanian terendam banjir. Dan lahan pertanian yang besar terendam ditanami padi. dikutip (beritajateng.id)
(Yons)
















